Menetapkan Target Profit Realistis Dalam Trading Forex


Bersikap realistis bagi sebagian orang itu sulit. Di dunia nyata maupun di trading forex, begitu banyak orang menetapkan target yang ‘tidak realistis’ bagi diri mereka sendiri. Pertama-tama, Anda perlu tahu apa yang Anda inginkan. Analisa itu; apakah cukup realistis hingga Anda bisa mempercayai itu dapat diwujudkan? Ataukah itu cukup realistis bagi Anda untuk dicapai dalam jangka waktu tertentu?

Dalam hal menetapkan suatu target trading forex maupun saat trading sistem binary option, Anda perlu berpikir dengan realistis. Banyak orang mengira mereka bisa berhenti dari pekerjaan utama mereka, lalu mulai trading forex dengan modal kecil. Mereka mendengar kata-kata orang lain bahwa forex bisa mengantar pada kekayaan, Anda bisa menghasilkan uang “banyak” dalam waktu singkat. Ya, memang hal itu mungkin, tetapi sebagaimana Anda ketahui, 90% trader di Dunia malah kehilangan uang mereka. Jika Anda menetapkan target yang realistis atau tidak terlalu tinggi untuk dicapai dengan nyaman, maka Anda justru bisa bertrading lebih baik daripada orang lain.

Dengan menetapkan target yang realistis, Anda bisa menghindari kekecewaan besar. Sebaliknya, jika Anda memasang target terlalu tinggi hingga sulit direalisasikan, maka Anda mungkin sekali akan kecewa dan malah kehilangan semua dana Anda. Setiap orang memiliki mimpi untuk menghasilkan jutaan dolar dengan bertrading forex, tetapi mereka sering lupa bahwa untuk menghasilkan sejuta dolar, Anda perlu dana lebih dari sejuta dolar sebagai modal awal. Padahal kenyataannya, trader yang punya modal besar belum tentu trader yang bagus. Modal yang besar itu hanya memberikan fleksibilitas yang lebih besar dalam bertrading, risiko yang lebih kecil per-transaksi, dan kemampuan untuk bertahan lebih lama di pasar. Semakin lama Anda bisa bertahan dalam bisnis ini, semakin besar peluang Anda untuk sukses.

Dulu, ketika awal saya mulai bertrading forex tahun 2005, saya memiliki target untuk menghasilkan setidaknya 20 USD per hari. Minggu pertama trading sangat luar biasa; saya berhasil mendapatkan lebih dari 100 USD. Tetapi kemudian mengalami kekalahan beruntun. Saya mulai kelewatan, membuka posisi trading terlalu banyak hingga membuat lebih banyak kerugian. Pada akhirnya, saya kehilangan semua dana saya. Masalahnya sangat simpel. Itu bukanlah target yang realistis bagi saya. Modal awal saya waktu itu hanya 100 USD! Dengan target harian 20 USD, persentasenya dibandingkan dengan modal awal terlalu besar, sehingga fleksibilitas juga rendah. Saya sangat kecewa, dan kemudian merubah cara trading saya dan memasang target yang lebih realistis.

Memasang Target Realistis

Jika Anda ingin membuat target dalam bertrading forex, maka pertama-tama, buatlah target yang masuk akal. Daripada membuat target ekstrim, coba membuat satu yang mudah dicapai. Katakanlah Anda memiliki akun sebesar 1000 USD dan target Anda sebesar 100 USD per hari; apakah itu masuk akal? 100 USD adalah 10% dari 1000 USD. Jika Anda ingin mendapatkan hasil setidaknya minimal 10% dari modal awal, maka Anda harus berani menerima risiko sebesar itu pula. Padahal mempertaruhkan 10% dari akun Anda BUKAN ide yang bagus. Percayalah.
Mari lihat target trading saya. Sebagai seorang day trader, saya memiliki target untuk mencapai setidaknya 12% dari modal dalam sebulan. Setiap kali saya bertrading, saya mengambil risiko 3% dari modal. Untuk mencapai target 12% setiap bulan, maka setidaknya saya harus meraih 4 trading yang sukses dalam sebulan. Itu tidak sulit. Target seperti itu masuk akal dan bisa dicapai dengan mudah. Saya merasa sangat nyaman dengan target tersebut, dan hal itu nampak pula di performa trading saya.

Setiap trader berbeda-beda. Target seorang trader akan berbeda dengan target trader lainnya. Semua itu tergantung pada karakter trading Anda. Mengetahui bagaimana Anda bertrading, kekuatan dan kelemahan, berarti Anda bisa mengetahui apakah target yang ingin Anda capai itu cukup masuk akal bagi Anda. Cobalah target yang kecil dulu, lalu jika Anda sudah bisa menggapainya, maka Anda bisa meningkatkannya secara bertahap.
Jadilah seorang trader Profesional yang bisa bertahan dalam trading forex.

Mengurangi Resiko Dalam Forex Trading

Saya pernah “bertemu” dengan seorang temen dari USA di sebuah forum yang membicarakan masalah investasi. Singkat cerita, dia menanyakan pada saya tentang investasi yang sedang saya lakukan. Saya bilang bahwa karena saya adalah trader forex, tentunya investasi yang saya lakukan ya di bidang forex trading ini.

Nah, ada hal yang menarik tentang komentarnya mendengar (membaca) jawaban saya itu, yang ingin saya kemukakan di sini supaya anda tau juga. Yah, pada intinya, dia sangat skeptis dengan forex trading. Dia mengatakan, investasi di forex trading adalah investasi yang sangat beresiko. Saya tentu saja menanyakan, apa alasan dia berpendapat seperti itu.

Menurutnya, ada 2 alasan utama yang membuat investasi di forex trading ini menjadi terlalu beresiko:

  • Leverage yang terlalu tinggi
  • Broker nakal (scam)
Pada intinya, saya menerima 2 alasan yang dia kemukakan. Tapi menurut saya, ada hal yang bisa kita lakukan untuk menghindari resiko berlebihan berkaitan dengan 2 hal di atas antara lain:

Resiko yang Berkaitan dengan Leverage
Memang banyak broker yang menawarkan leverage yang fantastis. Seperti yang kita ketahui, leverage di sini berfungsi sebagai daya ungkit untuk meningkatkan kekuatan transaksi kita. Semakin tinggi leverage yang kita gunakan, semakin tinggi juga daya ungkit kita, dan semakin besar kesempatan kita untuk mengambil keuntungan dari modal yang kita tanamkan. Tentunya broker menawarkan leverage yang tinggi  ini untuk menarik trader, karena mereka juga bersaing dengan broker lainnya.

Sebenernya sih sah-sah saja kalo kita memanfaatkan tawaran leverage yang tinggi dari broker tempat kita bertrading. Hanya, perlu kita ingat prinsip dasar dalam berinvestasi: semakin tinggi profit yang kita harapkan, semakin besar pula yang harus kita tanggung.

Untuk meminimalkan resiko yang berkaitan dengan leverage, yang bisa kita lakukan antara lain adalah menyesuaikan quantity per trade dengan jumlah modal kita, mengendalikan used margin dan available margin serta kekuatan margin yang ada untuk mengantisipasi pergerakan harga yang mungkin saja tidak sesuai dengan yang kita harapkan.

Intinya ya kembali ke margin management dan money management, dan sesuaikan pilihan leverage anda dengan kebiasaan maupun gaya trading anda. Saya sendiri masih menggunakan leverage 1:100 karena sudah terlanjur biasa dan masih merasa nyaman dengan leverage sebesar itu, karena kebetulan broker pertama tempat saya belajar trading hanya menawarkan pilihan leverage sebesar itu. Jadi, berapa leverage yang anda gunakan sebenarnya tergantung pada pilihan anda.

Resiko yang Berkaitan dengan Broker yang Nakal (scam)
Siapa sih yang gak kesel, kalo kita sudah cape-cape trading, ehh… pas kita WD ternyata broker tersebut tidak membayarkan WD yang kita lakukan itu atau… iya dibayarkan sih, tapi datengnya telat, alias waktu tunggu tidak sesuai dari yang dijanjikan. Wew, jelas bikin kesel banget tuh! Atau, satu hal lagi nih… Kita merasa posisi kita seharusnya masih aman karena SL yang kita tetapkan belum tersentuh, ehh… tiba-tiba saja pas kita cek, posisi tersebut sudah terclosed gara-gara SL ternyata terhitung sudah kesabet. Wah, sebel rasanya! Mau protes juga biasanya ribet prosedurnya. Hasilnya paling-paling cuma bikin tambah bete… Nah tuh!

Untuk menghindari broker yang nakal dan juga broker yang scam, sebaiknya sebelum kita menentukan broker tempat kita bertrading, kita perlu melihat dan mengecek apakah broker tersebut bisa dipercaya. Ada banyak sumber di mana kita bisa mengetahui broker-broker mana yang relatif bisa dipercaya dan aman untuk tempat kita menginvestasikan modal.

Anda bisa mencari informasi di web tentang legalitas suatu broker dan juga melihat kekuatan dukungan capital dari perusahaan pendukung broker tersebut. Mm… Kalo saya sendiri sih lebih suka menanyakan kepada sesama rekan trader yang sudah lebih berpengalaman dan sudah membuktikan kemudahan WD dan “kejujuran” suatu broker sebelum memutuskan untuk menggunakan broker tersebut dalam bertrading. Yah, dari pada ribet cari-cari informasi sendiri sih. Dan kalo sudah ketemu broker yang nyaman, saya bisanya “setia” dengan broker tersebut. Males juga sih, kalo gonta-ganti broker.

Ok! Itulah hal yang bisa kita lakukan untuk meminimalkan resiko dalam forex trading. Tentunya pada akhirnya, hasil yang akan kita peroleh dari trading ini akan sangat dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti trading system dan strategi yang kita anut, kedisiplinan kita dalam mengikuti trading plan dan juga faktor psikologis. Memang tidak ada investasi yang bebas resiko.Salah satu tugas kita sebagai trader (investor) adalah memahami dan mengelola resiko tersebut. Warren Buffet, mengatakan “Risk comes from not knowing what you are doing”. Jadi, kenali dan pahami segala sesuatu, termasuk resikonya sebelum anda memutuskan untuk melakukan sesuatu, dalam hal ini termasuk juga dalam berinvestasi.